Mereka Bukan Hebat, tapi Terbiasa

 Mereka Bukan Hebat tapi Terbiasa, membentuk kebiasaan baik
Pernah mendengar atau melihat orang hebat? bagaimana mereka bisa seperti itu? lalu bagaimana dengan kita? mari simak artikel kali ini yang berjudul Habits, Bukan Hebat Tapi Terbiasa.

Betapa banyak diantara kita yang tidak mengerti akan potensi yang sebenarnya telah ada dan seharusnya tinggal dikembangkan… Kali ini akan sedikit memeras ilmu baru dari seorang kawan yang tiada hentinya memotivasi diri ini.

Perlukah Motivasi?

Kita tahu bahwa Keahlian merupakan potensi yang telah dipelajari dan dikembangkan sehingga menjadi seolah-olah dimata orang lain itu kita hebat dengan apa yang bisa kita lakukan namun tidak bisa mereka lakukan. Inilah yang menjadi alasan sebagian orang menganggap bahwa keahlian selain faktor potensi bawaan tapi juga karna bentuk latihan yang dilakukan secara kontinyu. Hal itu tidaklah salah, karena sebuah keahlian nyata-nyata bukan sesuatu yang aneh manakala kita mampu dan mau mengembangkan potensi yang sudah Allah berikan. Mengapa saya bilang mampu dan mau? Ya karena memang tidak mudah, harus ada kemauan yang kuat baik suka ataupun tidak suka.

Biasanya kita menganggap motivasi adalah faktor utama yang menjadi pintu untuk melangkah menuju tangga keahlian, padahal tidak sedikit orang yang dengan motivasi tinggi namun tetep saja belum bisa menguasai keahlian tertentu seperti yang diinginkan.. mengapa? Ternyata ada faktor lain yang begitu berpengaruh, habits atau kebiasaan. Dalam bukunya yang berjudul Habits, Kang Felix menjelaskan bahwa bakat bukanlah sebuah takdir Allah yang hanya diberikan kepada orang-orang khusus, dan biasanya kita lantas melegitimasi bahwa kita idak mampu melakukan yang demikian karena memang tidak berbakat, lalu menyerah dan menerima diri apa adanya (qonaah yang salah), sehingga keluarlah kata “ya sudahlah…” jauh dari mampu.

Atas respon dari hal ini, maka bermunculan layaknya jamur di musim hujan berbagai bentuk pelatihan motivasi untuk meyakinkan bahwa setiap orang bisa melakukan apapun. TAPI ternyata Semangat yang meluap-luap itu tidaklah bertahan lama padahal keahlian tak kunjung dikuasai, kenapa? Karena motivasi hanyalah pembuka awalnya saja… justru induk sebenarnya dari keahlian adalah pengulangan (repetisi) dan bapaknya adalah latihan (Practice), demikian Kang felix menuturkan.

Memang benar bahwa untuk memulai suatu keahlian kita membutuhkan motivasi untuk mendobrak dinding kemalasan, tapi tidak cukup hanya disitu karena perlu adanya pembiasaan atau sesuatu itu perlu dilakukan secara berulang ulang. Kita sering menjumpai seseorang yang begitu fasih ketika membaca Al-Quran… lidahnya seolah-olah tidak bertulang (memang tidak bertulang :) ), namun sesungguhnya itu adalah efek dari pengulangan dan praktik secara terus-menerus dimulai dari kesalahan kemudian diadakan perbaikan-perbaikan sampai terbentuk otomatisasi diluar usaha yang begitu berarti karena semua sudah diluar kepala. Kalau istilah dunia programmer biasa dikenal dengan Trial and Error. Dari kesalahan dan kesulitan-kesulitan kemudian diadakan pembenahan sampai ketemu titik benar.

habits yang baik awalnya memang susah tapi lama-lama juga akan tertanam dalam otak kita walau tanpa kita memikirkan untuk melakukan hal itu. Sebagai contoh orang yang sudah terbiasa bangun subuh, walau tanpa alarm sekalipun otak akan memerintahkan kita bangun subuh… inilah yang kita sebut sebagai otomatisasi kinerja otak yang dihasilkan dari faktor kebiasaan. Dan tentunya kebiasaan baik yang sulit di awal-awalnya ini akan kita petik kemudahan demi kemudahan di sisa hidup kita, demikian juga dengan kebiasaan buruk, awalnya begitu mudah tapi akan berakibat susah di akhir hidup kita… so pilih mana?

Setelah kita termotivasi, kemudian melakukan repetisi selanjutnya adalah Aksi. Yap… Aksi.

Seringkali kita terlalu banyak membahas motivasi tapi kita kurang aksi. Banyak pikir cemerlang tapi tapi tak berlatih mengulang. Logikanya bila hewan yang tak memiliki akal saja bisa melakukan yang seolah di mata kita adalah hal yang menakjubkan seperti lumba-lumba yang bisa bermain bola, burung berhitung matematika. Harusnya kita yang punya akal lebih bisa. Mungkin lebih tepatnya untuk bisa menguasai keahlian tertentu kita tidak perlu berfikir panjang “emmm… saya bisa gak ya.. jangan-jangan… ah nanti salah… ah susah… dll.” Intinya lakukan saja. Kalau mengutip kata KH. Abdurrahman Wahid (Gusdur) “Analisa itu setelah sesuatu itu terjadi” gitu aja kok repot hehehe. Sekali lagi coba saja intinya, semakin sering kita melakukan, maka semakin sering pula latihan dan pengulangannya, Insya Allah kita pun akan terlatih dan akan menguasai keahlian apapun yang kita inginkan.

Sebuah penelitian (entah siapa yang meneliti) membuktikan, bahwa 30 hari melatih suatu hal akan membentuk kebiasaan baru terbentuk. Taruhlah kita ingin membentuk kebiasaan membaca Qur’an tiap hari pada waktu yang sama, ba’da subuh setengah jam misalnya. Maka selama 30 hari itu kita berupaya membiasakan diri untuk membaca Qur’an selama setengah jam setelah sholat subuh, barulah kebiasaan baru itu akan terbentuk, walau awalnya masih lemah. Tapi terus kita laksanakan, semakin kebiasaan itu berakar maka Pilot otomatis di otak kita akan terbentuk sehingga kita akan melakukannya setiap hari. Gak percaya? Buktikan…..

Dalam salah satu ayatNya Allah SWT berfirman “Dan demikianlah Kami menurunkan Al-Qur’an dalam bahasa arab dan kami telah menerangkan dengan BERULANG KALI, di dalamnya sebagian dari ancaman agar mereka bertaqwa atau agar alQuran itu menimbulkan pengajaran bagi mereka” (TQS. Thahaa: 113)

Akhirnya, kita hanya butuh bersabar menjalani habits baik untuk menjadi ahli. Potensi telah Allah tetapkan tinggal kita berlatih untuk terus mengasahnya dan menjadikannya sebagai bentuk kebiasaan, terus melakukan aksi setelah termotivasi dan terus berlatih mengulang, mempelajari setiap kesalahan dan lakukan perbaikan. Idealnya kalau sudah begitu, insya Allah kita kuasai.
Mereka Bukan Hebat, tapi Terbiasa Mereka Bukan Hebat, tapi Terbiasa Reviewed by Islah on 14.01 Rating: 5

1 komentar:

Silahkan tinggalkan komentar dengan bijaksana.

Diberdayakan oleh Blogger.